Keutamaan I`tikaf di Masjidil Haram

Seorang muslim yang mendapat kesempatan Itikaf Ramadhan di Masjidil Haram adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Karena besarnya pahala beritikaf di Masjidil Haram yang tidak dapat ditandingi oleh tempat manapun apalagi pahalanya dilipatgandakan karena dilakukan di bulan Ramadhan. Dan jangan lupa masih ada satu lagi yang akan melipatgandakan pahala yang sudah berlipat-lipat tadi yaitu Lailatul Qodar. MaasyaaAllah!!!

Sudah sepatutnya setiap Muslim memohon kepada Allah Subhaanahu Wa Ta`aalaa agar diberikan kesempatan baginya untuk beritikaf di Masjidil Haram. Setiap tahun, setiap 3 tahun atau minimum sekali dalam seumur hidup.

Jika kita beritikaf Ramadhan di Masjidil Haram, paling tidak kita akan melakukan ibadah – ibadah berikut:

1. Melaksanakan Sunnah Nabi berziarah ke Masjidil Haram dan Masjid An Nabawi. Menziarahi kedua Masjid  tersebut adalah bagian dari Sunnah seperti disampaikan dalam hadits:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِى هَذَا وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى

Tidak diikat pelana unta kecuali untuk menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjidil Aqsha. (Mutafaqun alaihi)

2. Umroh di bulan Ramadhan. Karena sunnahnya setiap yg berziarah ke tanah suci Makkah maka diutamakan baginya untuk melakukan Umroh. Dan pahala Umroh Ramadhan adalah setara dengan Haji bersama Rasulullah:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

Sesungguhnya umroh di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku (HR. Bukhari no. 1863).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, Yang dimaksud adalah umroh Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umroh Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumroh di bulan Ramadhan, maka umroh tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi. (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

3. Thawaf di Baitullah. Tidak ada tempat lain yg boleh dilaksanakan Thawaf kecuali di Baitullah. Dan pahala Thawaf sangatlah besar, sebesar pahala membebaskan budak. Kalau mau hitung hitungan, harga budak di zaman Rasulullah sekitar 50-80dinar. Anggaplah 50 Dinar. 1 Dinar adalah 4.25gr emas. Saat ini 1 Dinar setara Rp2jt. Jadi membebaskan budak setara dengan infaq kl 100jt. Itu satu kali Thawaf. MaasyaaAllah!!

Barangsiapa berthawaf di Baitullah & mengerjakan shalat dua rakaat, maka pahalanya seperti membebaskan seorang budak.
[HR. ibnumajah No.2947].

4. Pahala Shalat dilipatgandakan 100ribu kali. Dan bagi yg Itikaf di Masjidil Haram, paling minimum dalam sehari ia shalat 50 rakaat, 17 rakaat Shalat Fardhu, 33 Rakat Qiyamullail (Tarawih). Belum lagi shalat fardhu nya selalu berjamaah, 27x lipat dibanding shalat sendiri. Juga shalat lainnya, Sunnah Rawatib, Dhuha, Isyraq, Tahiyyatul Masjid, Tasbih, Shalat Thawaf, Syukrul Wudhu, Istikharah, dan tentunya shalat Mutlaq yg tidak dibatasi jumlahnya.

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik 1000 shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih baik 100.000 shalat di masjid lainnya. (HR. Ahmad 3/343. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

5. Amal shaleh lainnya juga dilipatgandakan di tanah suci. Jadi membaca Al Qur`an, sedekah, memberi makanan berbuka, dzikir pagi petang, doa, membantu orang dan amal shaleh lainnya dilipatgandakan pahalanya selama kita beritikaf di Masjidil Haram.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, Amalan lain selain shalat tetap berlipatganda pahalanya di tanah Haram. Akan tetapi tidak disebutkan bilangan tertentu. Yang dinyatakan berlipatnya pahala dengan disebutkan bilangan hanyalah pada amalan shalat. … (Majmu Fatawa wa Maqolaat, 17/198)

6. Pahala dilipatgandakan seperti ibadah 1000 bulan di Lailatul Qodar. Dengan Itikaf setiap malam pantaslah seorang yg beritikaf berharap mendapatkan Lailatul Qodar. Tidak masalah turunnya di malam ke berapa karena setiap malam ia memang beritikaf mengharap datangnya Lailatul Qodar.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan (Lailatul Qodar) itu lebih baik dari seribu bulan.
(QS.97:3)

Malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan yang setara dengan 83 tahun. Mujahid rahimahullah mengatakan, (Keutamaan) Lailatul Qadr lebih baik daripada keutamaan seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadr. Perkataan serupa diucapkan oleh Qatadah, Asy Syafii dan selainnya.

Jadi kita beribadah di malam tersebut dihitung seolah-olah kita beribadah lebih dari 1000 bulan. Bagi yg beritikaf di Masjidil Haram, di malam Lailatul Qadar minimum ia mengerjakan Shalat Maghrib, Isya dan Qiyamullail Lail 33 Rakaat atau kalau ditambah Sunnah lainnya: 2 Rakaat Qobla Maghrib, 3 Rakaat Maghrib, 1 rakaat shalat Jenazah, 2 Rakaat bada Maghrib, 2 Rakaat Qobla Isya, 4 rakaat Isya, 1 shalat Jenazah, 2 rakaat bada Isya, 33 Rakaat qiyamullail. Total 50 rakaat. Dikali 100ribu, maka setara 5juta rakaat di malam itu. Sehingga seolah-olah kita Shalat 5juta rakaat selama 83 tahun.

Maa Syaa Allah…

Scroll to Top