Panduan Praktis Berhari Raya

PANDUAN PRAKTIS BERHARI RAYA

Oleh
Ustadz Arief Syarifuddin Lc

Segala puji bagi Allâh yang telah menjadikan untuk umat ini musim-musim (momen-momen) kebaikan dan pahala di sepanjang tahunnya. Hikmahnya agar keutamaan dan pahala tersebut terus mengalir bagi umat ini. Ini merupakan karunia dan kenikmatan yang amat besar setelah nikmat Islam dan iman yang wajib untuk disyukuri.

Manakala bulan Ramadhan yang merupakan salah satu di antara bulan-bulan musim kebaikan yang teragung itu berlalu dengan terbitnya hilal awal malam bulan Syawal, maka tibalah hari esok yang dinanti oleh umat Islam. Hari di mana setiap Muslim yang telah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan itu memperoleh salah satu dari dua kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allâh Azza wa Jalla melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itulah hari ‘Iedul Fithri, hari raya dan hari berbuka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Dan orang yang berpuasa itu akan memperoleh dua kebahagiaan: apabila berbuka ia bahagia dengan berbukanya dan apabila berjumpa Rabbnya ia bahagia dengan (pahala) puasanya. [Muttafaq ‘alaih][1]

Dan dalam riwayat Muslim[2] dengan lafazh:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbukanya dan kebahagiaan ketika berjumpa Rabbnya (dengan pahala puasanya, pent.)

Namun kebahagiaan pada hari raya ini tidak boleh dimaknai sebagai hari berlepas diri dari ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya yang kemudian diisi dengan berfoya-foya. Tidak demikian cara yang ditunjukkan oleh panutan kita yaitu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kita boleh berbahagia pada hari tersebut, tapi tidak boleh berlebihan. Hendaknya kita tetap memperhatikan adab-adabnya sehingga kebahagiaan tersebut akan berbuah pahala.

Berikut kami bawakan secara ringkas panduan praktis dalam berhari raya agar dapat menuai pahala.

APAKAH HARI RAYA (‘IED) ITU?
Hari raya yang dalam bahasa arabnya diungkapkan dengan kata ‘ied (العِيْدُ) adalah hari yang padanya ada perkumpulan (manusia). Kata ‘ied (العِيْدُ) berasal dari kata ‘aada – ya’udu (عَادَ – يَعُودُ) yang berarti kembali, karena seolah-oleh mereka kembali (berkumpul) lagi. Adapula yang berpendapat bahwa kata ‘ied (العِيْدُ) berasal dari kata ‘aadah (العَادَةُ) yang bermakna kebiasaan, karena mereka menjadikannya (yakni perkumpulan tersebut) sebagai kebiasaan. Jamak kata ‘ied (العِيْدُ) adalah a’yâd (الأَعْيَادُ).

Ibnul A’rabi rahimahullah berkata, “Hari raya dinamai dengan ‘ied karena ia selalu kembali setiap tahunnya dengan membawa kebahagiaan yang baru.”[3]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Mereka mengatakan, ‘Dan (ia) dinamai dengan ‘ied karena (hari itu) selalu kembali dan berulang. Adapula yang berpendapat karena kembalinya kebahagiaan pada hari tersebut. Ada juga yang berpendapat karena adanya harapan kembalinya hari tersebut bagi orang yang dapat menjumpainya.”[4]

Sedangkan menurut istilah, ‘ied (العِيْدُ) yang bentuk jamaknya a’yâd (الأَعْيَادُ) adalah hari perayaan (perkumpulan) karena suatu peringatan yang membahagiakan, atau mengembalikan perayaan (pertemuan) dengan suatu peringatan yang membahagiakan. Salah satu dari dua hari raya itu ialah hari raya berbuka (‘Iedul Fithri), sedang satunya lagi ialah hari raya berkurban (‘Iedul Adha).[5]

Dan kaum Muslimin secara keseluruhan memiliki tiga hari raya (hari perkumpulan), tidak ada lagi yang keempat, yaitu: ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adha, dan hari Jum’at.[6]

APA YANG DISYARIATKAN PADA HARI ‘IED?
Hari raya dalam Islam tidak sekedar untuk menunjukkan kebahagiaan semata, tetapi ia juga adalah hari yang telah dipenuhi dengan ibadah-ibadah tertentu, sehingga seorang Muslim selalu berada dalam ketaatan setelah ketaatan, yang berarti pahala selalu mengiringinya dalam setiap waktu dan keadaan.

Pada ‘Iedul Fithri terdapat syari’at-syari’at berikut:

  1. Zakat fithri, yaitu berupa satu sha’[7] makanan pokok setiap negeri yang dikeluarkan oleh setiap jiwa Muslim yang memiliki kelebihan dari makanan pokoknya selama setahun dan diberikan kepada fakir miskin dari kalangan saudara-saudara mereka sesama Muslim. Dibayarkan pada malam ‘Iedul Fithri hingga sebelum manusia keluar menuju lapangan shalat ‘ied. Dan boleh dibayarkan sehari atau dua hari sebelumnya sebagaimana yang dilakukan oleh sabagian Shahabat seperti Ibnu ‘Umar c .
  2. Shalat ‘Iedul Fithri, yaitu shalat dua rakaat yang dikerjakan di pagi hari ‘ied setelah matahari naik sepenggalahan atau setinggi tombak di ufuk timur. Disunnahkan untuk sedikit diakhirkan pelaksanaannya guna memberi kesempatan kepada mereka yang belum membayarkan zakat fithrinya untuk menunaikannya.Setelah shalat ‘Ied usai, maka disusul dengan khutbah oleh imam yang berisi peringatan dan nasehat.

Adapun pada ‘Iedul Adha maka terdapat syariat-syariat berikut:
Bagi yang tidak berhaji maka disyariatkan hal-hal berikut:

  1. Shalat ‘Iedul Adha, sama seperti shalat ‘Iedul Fithri dalam tata caranya, yaitu dua rakaat dan disusul khutbah setelahnya. Hanya saja disunnahkan untuk diawalkan pelaksanaannya agar memberi kelapangan bagi mereka yang menyembelih hewan kurban sehingga dapat memakan sebagian dari daging hewan kurbannya.
  2. Menyembelih hewan kurban yang kukumnya wajib bagi yang mampu, yaitu berupa seekor kambing atau domba untuk satu jiwa, baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain yang diniatkannya. Dan seorang kepala keluarga dapat meniatkan bersamanya seluruh anggota keluarga yang berada di bawah tanggungannya dalam seekor domba sembelihannya. Atau berupa seekor sapi atau unta bagi tujuh orang jiwa yang berserikat. Disembelih pada hari ‘Iedul Adha yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, atau pada hari-hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Disunnahkan bagi pemilik hewan kurban untuk memakan sebagian dari daging kurbannya, selebihnya disedekahkan kepada fakir miskin dan dihadiahkan kepada orang-orang yang dia kehendaki dari kerabat maupun sahabat.

Adapun bagi yang berhaji maka disyariatkan hal-hal berikut:

  1. Melempar jumrah ‘aqabah (kubra) dengan tujuh buah batu kerikil.
  2. Menyembelih hewan hadyu (sembelihan haji) bagi yang melaksanakan haji dengan cara tamattu’ dan qiran. Baik pada hari nahar (penyembelihan) yaitu tanggal 10 Dzulhijjah atau hari-hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
  3. Thawaf ifâdhah.
  4. Mencukur rambut, baik menggundulnya atau memendekkannya secara merata bagi laki-laki. Adapun bagi wanita maka cukup memotong sepanjang ruas jari dari ujung-ujung rambutnya.

HUKUM SHALAT ‘IED
Para Ulama berbeda pendapat terkait hukum shalat ‘Ied, baik ‘Idul Fithri maupun ‘Iedul Adha. Setidaknya ada tiga pendapat sebagai berikut:

  1. Fardhu kifâyah, yaitu bila ditegakkan atau dilaksanakan oleh sejumlah orang yang mencukupi di suatu negeri maka kewajiban melaksanakannya menjadi gugur dari sebagian yang lain. Ini pendapat yang terkuat dari Imam Ahmad rahimahullah .
  2. Fardhu ‘ain, yakni diwajibkan atas setiap Muslim yang mukallaf (baligh dan berakal). Ini adalah pendapat Imam Abu Hanîfah rahimahullah , salah satu dari pendapat Imam asy-Syâfi’i rahimahullah , dan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad rahimahullah.
  3. Sunnah Muakkadah; tidak wajib. Ini adalah pendapat Imam Mâlik rahimahullah dan mayoritas Ulama madzhab Imam asy-Syâfi’i. Pendapat ini berdalil dengan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang a’rabi (dari perkampungan) ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kewajiban shalat lima waktu, orang tersebut bertanya, “Apakah ada kewajiban (shalat) yang lain bagiku selain itu?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak ada, kecuali bila kamu ingin bertathawwu’ (melakukan sunnah).”[8][9]

Namun pendapat yang terkuat dan terdekat kepada kebenaran –Wallahu A’lam